Jumat, 16 September 2016

CELOTEH ANAK - Nilai

CELOTEH ANAK

Nilai

Nabasa saat ini sedang belajar berbisnis, berdagang.  Ia memproduksi mainan 'Slime'  dan menjual pada teman-temannya di sekitar kompleks rumah, juga di SD tempat ia bersekolah.
Tidak banyak keuntungan yang didapat, namun cukup membanggakan dan juga menyenangkan baginya, sebab bisa bermain sekaligus menghasilkan, punya uang jajan hasil usaha sendiri dan sebagian ia sisihkan untuk ditabung.
Melihat kakaknya senang bisa berjualan, Alecia yang masih duduk di SD kelas satu, berpikir untuk mengikuti Nabasa yang sekarang kelas enam. Tapi ia mau berjualan yang lain, yaitu alat-alat tulis. Ia minta bantuan Nabasa untuk mengantarnya berbelanja setiap ada pesanan dari teman-temannya.
Suatu hari kakek datang berkunjung ke rumah mereka.
Nabasa, Alecia, Kinanti, sangat senang sebab sudah lama tidak bertemu kakek.
Seperti biasa kakek suka memberi uang untuk jajan cucu-cucunya.
Wah... tentu saja Nabasa, Alecia, dan Kinanti tambah senang. Mereka mempunyai rencana masing-masing atas uang yang diperolehnya.

Nabasa       : "Asyiiik... Teteh punya tambahan modal untuk bikin JUMBO SLIME!" Ungkap Nabasa pada adik-adiknya.

Alecia         : "Iya... Cia juga mau tambahin macam-macam jualannya, ah!" Sahut Alecia semangat.

Kinanti hanya menatap acuh tak acuh terhadap tingkah kakak-kakaknya.

Alecia         : "Kinan, uangnya buat apa? mau jualan apa? biar nanti tambah banyak!" Menyemangati Kinanti.

Kinanti mengerutkan mulutnya sambil menggelengkan kepala.

Samar-samar dari jauh terdengar suara musik yang sudah tidak asing lagi ditelinga anak-anak. "Te... no... net..., te... no... net..., te ne ne ne ne, not."

Kinanti segera pergi ke luar, memanggil ibu yang sedang menyiangi tanaman bunganya di halaman rumah.

Kinanti     : "Bu... tolong beliin!" Berdiri di pinggir jalan depan rumah.

Suara itu semakin mendekat, rupanya abang tukang es krim datang.
Ibu menghampiri kinanti, yang sudah siap dengan uang lima puluh ribu di tangannya

Kinanti    : "Bang... beli!"

Abang tukang es krim menghampiri Kinanti. Berhenti dan membuka box tempat es krimnya.
Kinanti digendong ibu, melihat-lihat ke dalam box dan mengambil es krim yang ia suka.
Ibu memperhatikan.
Kinanti memberikan uangnya ke tukang es krim.
Tukang es krim memberikan kembalian uang ke ibu.
Ibu menghitung uang kembalian, lalu memberikannya ke Kinanti.
Ibu           : "Kinan, ini simpan uangnya di dompet Kinan!"

Kinanti menerima uang dari ibu dengan semringah. Turun dari pangkuan lalu berjalan sambil loncat-loncat menghampiri kakak-kakaknya.
Kinanti     : "Teteh... Cia... lihat, uang Kinan jadi banyak...!" Memperlihatkan uang yang ada di genggamannya yang terdiri dari sepuluh ribuan empat lembar, dan lima ribuan satu lembar.

Alecia       : "Yaaa... itu sih malah berkurang!" Sambil tertawa kecil.

Nabasa     : "Masih banyakan uang kita dong...."

Kinanti     : "Apaan, cuma satu! Kinan ada lima lembar."

Nabasa     : "Iya... tapi nilai uang Kinan jadi berkurang."

Kinanti terdiam sambil berpikir, lalu segera masuk ke kamar mengambil dompet dan memasukkan uangnya.
Nabasa menghampiri.
Nabasa     : "Kinan, ngerti tidak, mengapa nilai uang Kinan jadi berkurang?"

Kinanti       : "Ngerti." Jawabnya santai, dan seperti enggan mendengar penjelasan dari kakaknya. Ia hanya terdiam entah apa yang dipikirkan anak usia empat tahun itu.
***

Sikap Kinanti seolah mengingatkan kita, pada sesuatu yang sering kita anggap akan menambah nilai pada diri kita, padahal tidak, bahkan dapat menguranginya.
Misalkan dalam menjalankan ibadah sehari-hari, kita merasa menambah pahala atau nilai untuk kehidupan kita, akan tetapi karena ketidaktahuan,  disertai sikap, ria, sombong, dan takabur, maka bukan hanya sia-sia, bahkan dapat mengurangi nilai atas apa yang telah kita lakukan.
Julianti, 9 September 2016

Jumat, 02 September 2016

CELOTEH ANAK - Motivator Hebat

CELOTEH ANAK
Motivator  Hebat

Tidak ada waktu lagi untuk bersantai, lima belas menit menjelang masuk sekolah pagi.
Perjalanan dari rumah ke sekolah sekitar sepuluh menit.
Nabasa dan Alecia bergegas mempersiapkan diri.
Ibu menunggu di atas motor dengan kostum lengkap: jeket, sepatu, celana panjang, helm, masker.
Setelah siap, anak-anak naik ke atas motor, Nabasa duduk di belakang ibu, Alecia duduk di depan ibu, masing-masing dengan helm-nya.
Motor dinyalakan, melaju cepat.
Di tengah perjalanan, terlihat antrian kendaraan begitu panjang.
Ibu berkata pada anak-anak,
Ibu             : "Waduh..., macet banget, sepertinya kita bakal terlambat, nih!"

Nabasa      : "Lewat jalan motong, Bu!"

Ibu              : "Ke mana, emang tahu jalannya?"

Nabasa      : "Tahu, belok kiri lewat jalan perkampungan, Teteh pernah lewat situ waktu mau kerja kelompok ke rumah teman."

Ibu             : "Ooo. Ayo kalau begitu!" Ibu membelokkan motor yang dikendarainya ke arah kiri.

Motor yang lain banyak juga yang lewat jalan itu.
Sampai di belokan, motor yang dikendarai ibu melaju pelan. Ibu melihat ke depan, tampak jalanan kecil menanjak sedikit curam, kanan kiri diapit parit, permukaan jalan tidak terlalu rata dan sepertinya licin. Ibu khawatir jika terus melaju akan terjatuh, kasihan anak-anak, lalu berpikir untuk meminta anak-anak turun sebentar, berjalan kaki hingga lewat tanjakan, motor akan ibu dorong.
Rupanya Nabasa dapat membaca kekhawatiran ibu, ia pun berkata,
Nabasa      : "Ayo, Bu! Kenapa berhenti?"

Ibu             : "Wah, jalanannya curam, licin lagi, Ibu tidak bisa, Nabasa!"

Nabasa      : "Ayo, Bu! Ibu bisa!" Memberi semangat.

Ibu             : "Nanti jatuh. Kalian turun aja dulu."

Nabasa      : "Tidak, Bu! Ibu past bisa! Gas! Gas!" Nabasa terus memberi semangat dan rasa percaya diri pada ibu.

Alecia yang duduk di depan hanya menatap jalanan tanpa kata-kata.
Ibu melihat ke belakang, tampak antrian motor yang lain menunggunya untuk segera melaju.

Nabasa      : "Ayo, Bu...! Gas! Gas!" Memperkuat suaranya.

Ibu pun menarik gas tanpa banyak pikir lagi, "Brrreeem...!" Suara motor menaiki tanjakan, ibu berkonsentrasi menjaga keseimbangan.
Akhirnya terlewati sudah satu tantangan.

Nabasa      : "Tuh kan, Ibu bisa!"

Ibu             : "Iya." Tersenyum walau jantungnya masih berdebar kencang.

Nabasa     : "Belok kiri, Bu!" Nabasa mengarahkan.

Ibu             : "Wah, berlumpur, becek, hati-hati baju kalian kecipratan kotor!"

Nabasa      : "Tidak apa-apa, lanjut terus, Bu!"

Ibu membawa motor dengan hati-hati, hingga sampailah di depan sekolah dengan selamat dan tepat waktu.

Ibu              : "Alhamdulillah...." Ibu menghentikan motornya dengan perasaan lega.

Nabasa dan Alecia turun dari motor, lalu mencium tangan ibu, pamit hendak masuk ke sekolah. Mereka berjalan menuju pintu gerbang sambil berbincang seru.
Ibu kembali mengendarai motornya melewati jalan yang biasa menuju rumah.
***

Banyak hal yang dilakukan seorang ibu atas dasar kasih sayang terhadap anaknya. Menghadapi tantangan, menerjang rintangan yang menghadang. Hingga pada titik pencapaian.
Anak-anak merupakan motivator yang hebat bagi seorang ibu.
Julianti, Ciputat 01092016

Kamis, 01 September 2016

POROS



POROS

"Kau adalah bola dunia
Yang akan terus berputar pada porosnya
Dan bergerak pada garis edarnya
Tidak akan keluar daripadanya
Jika itu terjadi, maka kiamatlah"
Julianti, Ciputat, 30082016 0200

Sabtu, 27 Agustus 2016

CELOTEH ANAK - Syukur

CELOTEH ANAK
Syukur

Alecia dan Kinanti baru sampai rumah setelah dijemput ibu dari sekolah, sebelum masuk, mereka membuka sepatu dan kaos kaki di teras rumah lalu menyimpannya di rak sepatu.
Alecia duduk di kursi depan TV sambil membuka baju seragam sekolahnya.
Kinanti mengikuti dan langsung mengambil remote TV dari atas meja.

Kinanti   : "Kok TV-nya tidak bisa nyala?" menekan tombol remote berkali-kali, lalu mendekati TV menekan tombol power di bagian bawah.
TV menyala, tapi terlihat gambar warna-warni pelangi tidak beraturan di layar.

Ibu          : "Itu TV-nya lagi rusak." Jawab ibu sambil meletakkan kunci motor di gantungan tempat kunci.

Kinanti   : "Tidak bisa nonton dong!" Mematikan TV dan meletakkan kembali remote di atas meja.

Alecia     ; "Ya... tidak apa-apa, biar tidak nonton TV mulu ya, Bu?" menoleh ke arah ibu.

Ibu          : "Iya...." Tersenyum sambil berjalan menuju lemari, mengambil baju ganti untuk Alecia dan Kinanti.

Alecia berganti seragam sekolah dengan pakaian rumah, lalu berjalan menuju tempat cucian baju, menaruh seragam ke tempat pakaian kotor dan kembali mendekati ibu.
Alecia     : "Bu, HP mana?"

Ibu          : "Di tas Ibu." Menunjuk ke arah tas di atas meja.

Alecia membuka tas, mengambil HP, mengutak-atik.
Alecia     : "Kok You Tube  tidak bisa, Bu?"

Ibu          : "Iya... internetnya mati, gangguan dari pusatnya, jadi tidak bisa Wi-Fi."

Kinanti   : "Tidak apa-apa... biar tidak main HP mulu." Mengomentari dengan santai.

Alecia menekuk mulutnya, menoleh ke arah Kinanti, meletakkan HP di atas meja.
Ibu tertawa kecil sambil membantu Kinanti berganti pakaian.

Kinanti    : "Kita main di taman aja, yu!" Mengajak Alecia.

Alecia      : "Iya, ayo!" Tampak semangat

Kinanti    : "Bu... temenin main ke taman, ya!"

Ibu menghela napas, diam sejenak, terasa badannya masih capek, hasrat hati ingin beristirahat di rumah saja, tapi melihat anak-anaknya tidak mengeluh saat TV rusak, internet mati, maka ibu memutuskan untuk menemani bermain di taman yang terletak di ujung jalan perumahan tempat mereka tinggal.
Ibu            : "Iya, nanti Ibu temani, tapi sambil makan, ya!"

Alecia       : "Iya...."

Kinanti     : "Horrreee...!" Bersorak dengan girang.

Ibu menyiapkan makanan dan minuman yang hendak dibawa ke taman.
Mereka berangkat bersama-sama dalam cuaca yang cukup terik.
Alecia dan Kinanti memakai payung mini.
Ibu mengenakan topi.
Sampai di taman, Alecia dan Kinanti menuju ayunan dan asyik bermain di bawah rindang pepohonan.
Ibu menyuapi makan.
***

Anak-anak ini tidak mengeluh dan dapat menerima keadaan saat TV rusak, internet mati. Bahkan mereka mencari solusi agar tetap dapat menikmati hari, yaitu dengan pergi ke taman untuk bermain.
"Tidak mengeluh," adalah wujud dari rasa syukur. Itulah pelajaran yang didapat ibu dari sikap dan celotehan anak-anaknya.
Julianti, Ciputat, 26082016

Selasa, 23 Agustus 2016

CELOTEH ANAK - Keluarga

CELOTEH ANAK
Keluarga

Alecia dan Kinanti sedang bermain kuis-kuisan, Alecia sebagai Host yang memberi pertanyaan, Kinanti sebagai peserta, menjawab.
Beberapa pertanyaan asal-asalan dan jawaban asal-asalan telah dilontarkan, hal ini membuat ibu dan Nabasa tersenyum memperhatikan, dan sampailah pada pertanyaan yang membuat ibu merasa  lucu juga haru.

Alecia    : "Kinan, apa yang lebih berharga dari emas berlian?

Kinanti  : "Emas berlian itu yang gimana?"

Alecia    : "Emas berlian itu yang sering ada di harta karun."

Kinanti  : "Ooo... yang selalu dicari Kapten Hook, ya?

Alecia     : "Iya."

Kinanti   : "Hhhmmm... apa ya?" Telunjuknya mengetuk-ngetuk pipi, mulut ditekuk, mata lirik kanan kiri atas bawah, tanda sedang berpikir.

Alecia     : "Tet tot... habis waktu! Jawabannya adalah... KELUARGA!"

Kinanti   : "Yaa... kalau KELUARGA sih Kinan tahu!"

Alecia      : "Apa?"

Kinanti    : "Ayah, Ibu, Teteh, Cia, Kinan."

Alecia      : "Ya, betul...! Terus, kenapa coba, Kapten Hook selalu mencari harta karun?"

Kinanti   : "Karena tidak ada Teteh, Cia, Kinan, Ibu dan Ayah!"

Alecia     : "Betul...!"

Keduanya bersorak sangat girang.
Ibu dan Nabasa ikut bertepuk tangan.
***

Lucu memang, terkadang kepolosan anak-anak dapat mengeluarkan celotehan tentang kebijakan yang seringkali sudah terlupakan oleh kita para orang tua, bahwa harta yang lebih berharga dari emas berlian adalah keluarga, dan KELUARGA merupakan HARTA yang NYATA bagi anak-anak.
Julianti, Ciputat, 21082016

Selasa, 16 Agustus 2016

#MyCupOfStory - KOPI SEJATI

KOPI SEJATI
Karya Cipta: Julianti


   Satrio menyusuri jalan setapak tepi danau, menuju padepokan Mbah Sukmo, dia hendak sowan, sudah lama tidak bertemu Sang Guru.
   Kanan kiri jalan ditumbuhi rumput jampang dan ilalang.
   Hujan siang tadi cukup deras, hingga meninggalkan bekas,  genangan air, membuat becek dan licin.
   Sepatu hitam mengkilat hasil disemir tadi pagi, dijinjing, sebab lebih nyaman berjalan dengan kaki telanjang.
   Kurang lebih lima ratus meter jarak dari jalan raya ke padepokan Mbah Sukmo.
   Sesampai di pintu gerbang, Satrio menuju pinggir danau  mencuci kaki. Setelah bersih, kembali mengenakan sepatu, berjalan menuju Pendopo Utama yang terletak di tengah-tengah antara saung-saung kecil yang terbuat dari bambu, beratap daun kirei.
   Satrio mengucap salam. "Assalamualaikum...." Melihat sekeliling mencari orang di sekitar pendopo, sepi seperti tidak berpenghuni. "Assalamualaikum... permisi...!" Belum juga ada jawaban. Satrio duduk di bangku bawah pohon kersen, bersandar dengan kepala menatap ke atas, terlihat banyak sekali buah kersen yang matang, berwarna merah,  tampak menggoda untuk dipetik dan dinikmati. Satrio naik ke atas bangku bambu tempat yang tadi dia duduki, memetik buah kersen dengan asyik sekali.
   Sesaat sebelum buah kersen itu masuk mulutnya, tiba-tiba...,
"Eeehhh... Ada tamu." Suara itu mengagetkan Satrio, buah kersen yang hendak dia masukkan ke mulut, terjatuh.
"Eh, iya. Mbah... kaget saya." Satrio mengelus-elus dadanya.
   Rupanya pemilik suara tadi adalah Mbah Sukmo.
"Kamu sih, terlalu asyik metik kersen." Sahut Mbah Sukmo.
"Hehehe... jadi malu saya."
"Wis, ojo malu-malu. Ayo, mau masuk atau makan kersen dulu?" Mbah Sukmo dengan nada santai.
"Iya, Mbah. Saya masuk saja." Satrio turun dari bangku, lalu berjalan mengikuti Mbah Sukmo, menuju saung di sudut barat pinggir danau, di antara pohon paku-pakuan yang tumbuh subur .
   Matahari senja mulai tampak, seiring angin meniup awan-awan kelabu yang tadi menutupi langit.
   Satrio berdiri menatap jauh ke sudut danau, menikmati pantulan cahaya matahari pada air danau yang jernih, tampak seperti cermin, cermin danau yang menunjukkan keindahan, kemolekan cakrawala senja yang sungguh luar biasa.
"Potret saja, jika kau mau, agar jadi sesuatu yang dapat dinikmati suatu saat nanti." Mbah Sukmo sambil mengeluarkan HP dan membidikkan kameranya.
"Iya, Mbah." Satrio mengikuti.
"Matahari senja itu begitu elok dan lembut, maka jangan sampai kau kehilangan momen berharga ini, kita bisa banyak belajar darinya." Mbah Sukmo sambil terus mengambil gambar-gambar cakrawala yang mempesona.
"Iya Mbah, indah banget." Jawab Satrio.
   Sementara Satrio dan Mbah Sukmo asyik memotret, datanglah Amen membawa baki dengan cangkir-cangkir kopi di atasnya.
"Taro di dalam saung saja, Men....! Terimakasih ya...." Mbah Sukmo menoleh ke  arah Amen.
"Iya, Mbah. Sama-sama." Jawab Amen.
"Itu kopi kita sudah datang, ayo ngopi dulu!" Ajak Mbah Sukmo. Berjalan menuju ke dalam saung.
   Satrio mengikuti.
   Mereka duduk berhadapan, di antara cangkir-cangkir kopi yang masih mengepul.
"Oh iya, jadi ingat, saya juga bawa kopi di tas." Satrio membuka tasnya, mengeluarkan bungkusan plastik berisi kopi. "Ini, Mbah... kopi Lampung, hasil  kebun kami, produksi sendiri, Mbah pasti suka, rasanya mantap." Memberikan bungkusan kopi pada Mbah Sukmo.
"Wah... terimakasih banyak, kopi sejati pasti mantap."
"Kopi... sejati?" Satrio menatap Mbah Sukmo mengharap penjelasan.
"Iya, mulai dari benih, ditanam, dirawat, dipanen, diolah, hingga diseruput mulut, jika dilakukan dengan penuh cinta kasih, pasti rasanya nikmat, sebab segala sesuatu di alam ini memiliki jiwa, maka sentuhlah dengan jiwa."
"Ooo... iya, Mbah." Satrio tersenyum, menoleh ke arah kopi yang tersaji di  cangkir. Terdapat empat cangkir. Dia merasa heran, mengapa ada empat cangkir, sedangkan mereka hanya berdua.
   Belum sempat bertanya, Mbah Sukmo sudah memulai pembicaraan.
"Sudah satu minggu ini ada Mbah Bidho dan Mbah Macan rawuh."
"Ada di sini sekarang, Mbah?"
"Iya." Jawab Mbah Sukmo.
   Satrio menoleh ke kanan kirinya, melihat sekeliling, sepi, hanya mereka berdua di situ.
"Di mana Mbah Bidho sama Mbah Macan?"
"Di sini, sekarang bersama kita." Tegas Mbah Sukmo.
   Satrio tersenyum menatap Mbah Sukmo, menggeleng-gelengkan kepala tanda tidak mengerti.
"Coba kamu pakai kamera HP-mu, potret saya!" Pinta Mbah Sukmo.
   Satrio mengambil HP,  membidikkan kameranya, mengambil posisi clos up, memotret Mbah Sukmo.
"Bagaimana hasilnya?" Tanya Mbah Sukmo.
   Satrio tertegun melihat foto hasil jepretannya, menoleh ke arah Mbah Sukmo,  
"Mbah, boleh saya coba sekali lagi?"
"Ya... silahkan!"
   Satrio membidikkan kameranya kembali, masih terlihat wajah Mbah Sukmo di layar kamera. Lalu dia klik, hasil fotonya sama seperti tadi yang pertama dia potret.
"Apa yang kaulihat?" Tanya Mbah Sukmo.
"Hhmm... ini Mbah." Satrio menggeser duduknya, mendekati Mbah Sukmo, memperlihatkan hasil jepretan kameranya, "Ini seperti sebongkah berlian, kilauan-kilauan cahayanya sangat cantik, seperti diliputi pelangi." Satrio terlihat kagum.
"Ya, itu Mbah Bidho Cakrawala Angkasa. Penguasa Angkasa." Jawab Mbah Sukmo, sambil melepas ikat kepalanya.
"Ooo...," mengamati dengan seksama fotonya. "Terus bisakah saya melihat Mbah Macan?" Tanya Satrio.
"Coba saja." Mbah Sukmo mengurai rambutnya yang panjang, putih, seputih warna kumis dan jenggotnya yang panjang. Mbah Sukmo mengambil rokok kreteknya, menyalakan korek, membakar ujung rokok hingga timbul bara, menyedot, lalu keluar asap dari mulutnya.
   Satrio kembali ambil posisi memotret. Klik. Dia langsung melihat hasil kameranya, mengerutkan dahi, menatap dengan seksama. Kembali mendekati Mbah Sukmo, "Mbah, yang ini cahaya pelanginya membentuk, menyerupai kepala macan, menyeramkan tapi mempesona."
   Mbah Sukmo menghela napas panjang, menatap tajam Satrio, "Itulah Mbah Macan." Mbah Sukmo kembali menyedot rokoknya sambil mengelus jenggot serta mengenakan ikat kepalanya seperti semula.
   Satrio masih menatap kamera. Suasana hening sejenak, hanya terdengar  samar-samar suara kendaraan lalu-lalang dari kejauhan.
"Ayo kopinya diminum dulu!" Mbah Sukmo mengambil cangkir kopinya, menyeruput hingga terdengar bunyi dari mulutnya.
"Iya, Mbah. Terimakasih." Satrio mengikuti, menyeruput kopinya. "Mbah, ini kopi yang dua untuk Mbah Bidho dan Mbah Macan, ya?" Mengarahkan pandangan pada kedua cangkir yang ada di hadapan mereka.
"Bukan, beliau sukanya ikan, aroma sere dan alang." Jawab Mbah Sukmo.
"Terus ini buat siapa?" Satrio heran.
"Mbah-mu!"
"Ooo... buat Mbah?"
"Iya, Mbah-mu." Mbah Sukmo dengan santai.
"Hehehe... saya serius nih, Mbah." Satrio tertawa mendengar ucapan Mbah Sukmo yang seperti meledeknya.
"Lha, aku juga serius!" Mbah Sukmo menatap Satrio.
"Maksudnya?"
"Kamu tidak tahu dari tadi ada Mbah Putri dan Mbah Kakung ikut bersamamu?"
"Masa sih, Mbah?"
"Aku tahu kopi yang kamu bawa itu pasti mantap, sebab Mbah-mu dulu menanam, memelihara dan mengolahnya penuh cinta kasih, nah sekarang beliau wariskan perkebunan itu untuk dikelola keluargamu, bukan?"
"Kok Mbah Sukmo tahu?"
"Lha, Mbahmu yang cerita ke aku, tadi kami berbincang." Mbah Sukmo menyedot rokok, meniupkan asap dari mulutnya. "Aku yakin perkebunan kopi, dan pabrik pengolahan kopi milik keluargamu akan sukses, asalkan kalian tidak serakah, baik terhadap sesama manusia atau pun alam semesta, dan harus selalu kalian pegang nilai-nilai yang sudah diwariskan oleh Mbah-mu juga para leluhurmu." Mbah Sukmo  berpesan pada Satrio.
"Iya, Mbah." Satrio menunduk mendengarkan pesan Mbah Sukmo.
   Suasana sekitar danau berangsur gelap, senja berganti malam, cuaca terasa dingin, awan di langit sudah menebal lagi, tidak lama hujan pun turun.
"Waduh, hujan!" Keluh Satrio.
"Hujan itu kan berkah, mengapa kau keluhkan?" Mbah sukmo sambil menatap air hujan jatuh di air danau.
"Iya, Mbah. Tapi masalahnya saya harus segera pulang, tadinya mau pamitan sebab ada janji sama klien setelah ini."
"Ooo... kalau begitu coba kamu bikinin kopi dulu satu gelas, pakai kopimu. Tuh, sana ke dapur, ada Amen, minta bantuan dia." Pinta Mbah Sukmo.
"Baik Mbah." Satrio berjalan menuju dapur yang terletak di saung sudut utara.
Beberapa menit kemudian dia kembali membawa segelas kopi. "Ini kopinya, Mbah."
"Persembahkan aromanya untuk hujan, minta hujannya pindah dulu ke kota lain, sebab kamu mau lewat." Tutur Mbah Sukmo.
   Satrio mempraktikkan petunjuk Mbah Sukmo. Dia berjalan menuju pinggir saung sambil memegang segelas kopi, meletakkannya di bangku teras dengan hati-hati, sambil berbisik, "Puniko unjuk dahar sekedaripun. Monggo dipun tampi pisungsun saking Satrio."
   Satrio menengadah ke langit, kedua tangannya mengembang merentang seiring pandangan mata. Rambutnya yang ikal agak gondrong  terkena tampias air hujan, hingga terlihat titik-titik bening seperti embun.
   Tiga puluh menit kemudian hujan pun redalah, bahkan berhenti.
   Satrio menangkupkan kedua tangan di wajahnya, lalu menatap cakrawala, "Wah... luar biasa! Kopi ini sungguh dahsyat, ajaib, bisa menghentikan hujan!" Satrio tersenyum lebar. Pemuda tampan berkulit sawo matang itu pun merunduk hormat pada Mbah Sukmo.
"Karena kau memberikannya dengan tulus. Dan tepat sekali, kopimu memang dahyat dan ajaib, karena dari awal sampai akhir, diproses dengan penuh cinta kasih." Mbah Sukmo tersenyum.
"Keren, Mbah! Saya sudah punya merek untuk kopi saya, yaitu..., KOPI SEJATI." Satrio menggerakkan alisnya, menatap Mbah Sukmo, tanda meminta persetujuan.
"Iya, bagus, KOPI SEJATI: ditanam, dirawat, diproses, dan disajikan sepenuh hati dengan cinta kasih." Mbah Sukmo tersenyum lebar.
   Tidak lama Satrio pun pamitan. Melangkah meninggalkan padepokan dengan perasaan senang.

***

Julianti, Ciputat 17 Agustus 2016
*Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen #MyCupOfStory Diselenggarakan oleh GIORDANO dan Nulisbuku.com*

Rabu, 10 Agustus 2016

CELOTEH ANAK - Kata Hati

CELOTEH ANAK

Kata Hati

Saat liburan lebaran, sungguh menyenangkan, di mana semua anggota keluarga, sanak saudara berkumpul, bercengkerama, saling bertukar cerita. Begitu pun bagi anak-anak, mereka terlihat bahagia bermain bersama.
Kinanti paling kecil diantara saudara-saudaranya yang lain, tapi ia tidak mau kalah, tidak mau ketinggalan jika kakak dan saudara-saudaranya bermain atau berjalan-jalan, selalu ikut serta.
Saat Nenek menyuruh cucunya yang sudah besar untuk membeli bumbu ke warung yang jaraknya cukup jauh, Kinanti memaksa ingin ikut. Akhirnya semua saudara yang lain juga ikut.
Sepulang dari warung, Kinanti menghampiri ibu dengan wajah cemberut, matanya berkaca-kaca.

Kinanti   : "Ibu...."

Ibu           : "Ya, kenapa, Kinan?"

Kinanti   : "Ibu pernah ga dibohongi?"

Ibu          : "Hhmm... pernah."

Kinanti   : "Ga enak kan, Bu?" Air matanya mulai menetes.

Ibu         : "Iya. Emang kenapa, Kinan dibohongi?" Menatap wajah Kinanti yang sudah basah dengan air mata.

Kinanti   : "Iya." Terisak-isak.

Ibu           : "Dibohongi gimana?"

Kinanti  : "Tadi Kinan ikut ke warung, pulangnya Kinan jalan paling depan, kata yang lain, 'terus aja lurus', pas Kinan lihat ke belakang, mereka sudah tidak ada, Kinan sendirian, bingung, lewat jalan mana, banyak belokan,"  tangisannya makin menjadi.

Ibu memeluk Kinanti
Ibu           : "Terus gimana Kinan bisa sampai rumah?"

Kinanti    : "Hati Kinan bilang, harus belok kanan."

Ibu            : "Ooo... jadi Kinan ikuti kata hati ya?"  

Kinanti    : "Iya, terus pas sampai rumah, mereka malah tertawa. Kinan jadi sakit..., Bu. Sakit... hati Kinan."

Ibu terharu melihat Kinanti menangis tersedu-sedu, tapi juga lucu,  mendengar putri kecilnya curhat layaknya orang dewasa, sambil tersenyum ibu mengusap air mata Kinanti dengan jari tangan, mengelus-elus kepalanya.
Ibu        : "Iya... mungkin mereka mau main-main, bercanda sama Kinan."

Kinanti : "Tapi hati kinan jadi tidak enak!" Memotong pembicaraan.

Ibu      : "Nanti Ibu bilang sama mereka, jangan suka main seperti itu, bikin Kinan bingung dan sakit hati. Sekarang Kinan minum dulu yu! Cuci muka biar segar...."  Ibu menggendong Kinanti menuju kamar mandi, mencuci mukanya, menyeka dengan handuk. Menuju dapur, mengambil air minum, memberikannya pada Kinanti. Setelah Kinanti reda tangisnya, ibu menghampiri kakak dan saudara-saudaranya yang tadi bersama-sama pergi ke warung. Menceritakan apa yang dirasakan Kinanti, menasehati agar tidak terulang lagi. Mereka pun minta maaf, sebab tadinya hanya bermaksud main-main saja, agar seru. Setelah saling bersalaman Kinanti kembali bermain bersama.
***


Kata Hati

Saat tersakiti
Saat terintimidasi
Seolah tidak ada yang dapat dipercayai
Coba, dengarkanlah kata hati
Kata hati yang murni
Datang dari Sang Pemilik hati
Akan menerangi
Jalan gelap penuh duri
Melangkah
Menuju kebaikan
Mengarah pada kebenaran
Hingga titik pencapaian
Dengarkan
Renungkan
Sikapi
Lalui
Dia akan selalu menemani.
Julianti, Cianjur, 08072016