Kamis, 29 Desember 2016

CELOTEH ANAK - Mandiri

CELOTEH ANAK

Mandiri

Pukul sebelas lewat empat puluh lima menit, terdengar suara mengucap salam dari pintu depan, "Assalamualaikum...." Rupanya Nabasa baru pulang sekolah.

Ibu menjawab salam dan menghampiri Nabasa. "Waalaikum salam..., kok sudah pulang, sama siapa?"

"Tadi pulangnya agak cepat, nunggu dijemput Ibu kelamaan, jadi coba pulang sendiri naik angkot."

"Berani?"

"Di angkotnya sih sama Sena. Pas jalan ke kompleksnya, sendiri."

"Ooo...." Ibu kembali berjalan ke belakang rumah.

Nabasa membuka sepatu dan kaus kaki, lalu menghampiri ibu. "Bu, Teteh senang banget punya buku LKS." Mengambil beberapa buku dari dalam tasnya, menunjukkan pada ibu.

"Lho, kok sudah dapat, Ibu kan belum kasih uangnya?"

"Sudah dibayar, Bu. Pakai uang Teteh, hasil jualan Slime." Tersenyum sambil menggerak-gerakkan kedua alisnya yang tebal.

"Ooo... nanti Ibu ganti."

"Tidak usah, Bu. Teteh seneng banget bisa beli buku sendiri. Kalau dulu punya buku itu rasanya biasa saja, sekarang beda, gimana... gitu!"

Ibu tersenyum, "karena belinya pake uang sendiri kali... perasaan bangga, senang pada diri sendiri, karena sudah dapat menghasilkan sesuatu atas usaha yang telah dilakukan. Itu namanya kepuasan diri."

"Iya, Betul. Teteh merasa puas dan bangga." Tersenyum lebar.

"Berarti sekarang tambah rajin dong belajarnya." Mata ibu menatap menggoda Nabasa sambil tersenyum.

"Hehehe... sepertinya sih, begitu." Nabasa membereskan buku-buku memasukkannya kembali ke dalam tas. "Bu, Teteh merasa, semakin besar itu semakin serba sendiri. Nyuci sendiri, nyetrika sendiri, apa-apa sendiri."

"Iya memang begitu, bayi saja tidak selamanya nyusu terus sama ibunya. Apa lagi Teteh sudah kelas enam SD."

"Yeee... emangnya Teteh masih nyusu ke Ibu!"

"Itu kan, istilahnya, bukan arti yang sebenarnya."

"Hahaha...." Keduanya tertawa geli.

"Bu, Teteh mau kasih nama dulu bukunya." Berjalan menuju kamar. Satu persatu buku itu dia tulisi namanya.

Ibu tersenyum senang melihat anak sulungnya sudah bisa mandiri.
***

Banyak hal yang dapat membuat rasa bangga, percaya diri, dan dihargai. Diantaranya adalah dapat hidup MANDIRI.
Julianti, Ciputat, 16092016

Sabtu, 03 Desember 2016

CELOTEH ANAK - Teman

CELOTEH ANAK
Teman

Hari Minggu, adalah hari kemerdekaan bagi anak-anak, sebab bebas dari rutinitas sekolah.
Setelah sholat subuh, Nabasa, Alecia, Kinanti, membereskan tempat tidur, lalu pamitan untuk lari pagi mengelilingi kompleks rumah bersama teman-temannya.

Begitu pun ibu, merasakan suasana santai di hari Minggu, selesai beres-beres rumah, membuka laptop, memutar vidio senam aerobik, walau senam sendiri tapi terlihat menikmati.
Jam delapan lewat ibu selesai senam.
Anak-anak belum pulang ke rumah untuk sarapan.
Ibu mulai khawatir, bergegas ke luar menuju rumah Mia sahabat Nabasa, ternyata tidak ada. Mencari ke rumah temannya yang lain, tidak ketemu juga, bahkan teman-temannya pun belum pulang.

"Hhmmm... ke mana anak-anak, ya." Ibu bergumam sambil berjalan melewati mesjid.
Sayup  terdengar suara ramai di halaman mesjid, ternyata anak-anak sedang bermain loncat tinggi.
Ibu menghampiri, "Teteh , Cia, Kinan... ayo pulang dulu, kan belum makan."

"Tar, Bu!" Jawab Nabasa.

"Ini sudah mau jam sembilan, nanti mainnya dilanjutin setelah makan!"

"Iya, iya, Bu...." Berhenti sejenak menoleh pada teman-temannya, "Hey... aku mau makan dulu ya... nanti ke sini lagi."

Teman-teman Nabasa terlihat kecewa, tapi mereka terus melanjutkan permainan.
Nabasa menghampiri ibu.
Alecia dan Kinanti mengikuti.
Mereka berjalan bersama menuju rumah.

"Gimana sih, main kok sampai lupa makan!" Ibu mengomel.

"Teman-teman yang lain juga belum pada makan." Nabasa menyahut.

"Kenapa ngikutin orang lain?" Ibu menoleh ke Nabasa.

"Bukan orang lain, Bu. Tapi TEMAN." Kinanti menceletuk, dengan muka tanpa ekspresi.

"Iya..., teman itu kan orang lain."

"Bukan! Kalau orang lain itu... tidak kenal. Ini semua Kinan kenal." Terlihat wajah polos Kinanti, menggemaskan.

"Iya deh, teman." Ibu menarik napas panjang, senyum tertahan.

"Eh, gimana kalau kita ajak mereka makan bareng, biar seru." Usul Nabasa.

"Iya bener!" Alecia mengacungkan telunjuknya, tanda setuju.

"Ya, Bu, ya...?" Nabasa memegang tangan ibu.

Sejenak Ibu menatap Nabasa, melihat ke Alecia, Kinanti, seraya berpikir. "Hhmmm... Iya, boleh."

"Horeeey...!" Nabasa bersorak senang, segera balik badan, berlari menuju teman-temannya. "Heyy... kalian udah pada makan belum?"

"Belum." Menjawab serentak.

"Kita makan bareng-bareng yuuu...!"

Mereka saling menoleh, menatap, sebagai isyarat minta persetujuan. "Ayo!"

"Iya, ayo! Makannya di Gazebo aja, ya!" Usul Mia.

"Kita ambil makanannya dulu, nanti kumpul di sana." Sahut yang lain.

"Ok...." Anak-anak berlarian menuju rumah masing-masing.

Begitu pun Nabasa, berlari menuju rumahnya. Terlihat ibu, Alecia dan Kinanti, baru sampai teras. "Bu... Bu... biar Teteh aja yang ambil makanannya, kita mau makan bareng di Gazebo."

Ibu mengangguk. "Iya."

"Kinan ikut...!"

"Cia juga...!"

Mereka mengemas makanan ke dalam kotak plastik, lalu pergi menuju Gazebo yang terletak di sudut pertigaan jalan dekat rumah.
Tidak lama kemudian teman-temannya berdatangan.
Mereka pun makan dengan lahap dan seru, saling mencicipi makanan yang dibawa dari rumah masing-masing.
***

Sikap anak-anak itu mengingatkan kita tentang solidaritas.
Rasa kebersamaan yang kini mulai memudar, terutama di daerah perkotaan.
Budaya "Silih asah, silih asih, silih asuh."  Semoga dapat terjalin kembali, mengakar, tertanam dari sejak dini.
Julianti, Ciputat, 14082016

Jumat, 25 November 2016

CELOTEH ANAK - Rahasia


CELOTEH ANAK
Rahasia

Hari begitu panas, baju Kinanti basah berkeringat, ia merasa tidak nyaman dan kehausan. Dari taman ia berlari pulang ke rumah.
Sampai di rumah langsung mendekati kulkas, membuka pintunya, terlihat di freezer ada es mambo kacang hijau yang semalam ia buat bersama Nabasa dan Alecia.
Ia ingin memakannya, akan tetapi mereka sudah membuat kesepakatan akan makan es-es itu bersama.
Kinanti tampak bingung, ingin mengambil es itu. Ambil tidak. Ambil tidak. Tidak ambil.
Tangan mungil Kinanti meraih sebungkus es mambo.
Kinanti tengok kiri kanan lalu berlari ke sudut ruang TV. Dengan cepat ia buka es mambo lalu menikmatinya dengan lahap. Sesekali matanya terbeliak menahan rasa dingin di bibir dan lidahnya.

Ibu yang sedang berada di dapur, melihat tingkah Kinanti, lalu menghampirinya. "Kinan... kenapa makan es sambil ngumpet?"

Kinanti melotot dengan bibir manyun, telunjuk tangan kirinya ditempelkan di bibir, "Sssttt... Ibu jangan bilang-bilang Teteh sama Cia, ya! Ini RAHASIA." Makin jenaka wajah Kinanti, seraya mengusap mulutnya yang belepotan es mambo

Ibu tersenyum, "Rahasia apa?"

"Kinan makan es duluan." Dengan nada berbisik.

Ibu  menahan geli, "Ooo... tapi kan Teteh sama Cia belum pulang sekolah, tidak ada di rumah, kenapa harus ngumpet?"

"Iya... tidak apa-apa, Ibu jangan berisik!" Matanya mendelik.

Ibu tersenyum melihat tingkah Kinanti, lalu kembali ke dapur.

Sehabis makan es, Kinanti menghampiri ibu yang baru selesai masak.
"Bu... Kinan mau ganti baju, ini sudah basah, lengket." Menarik-narik baju yang dipakainya.

"Iya, sini sekalian diseka." Ibu membantu membuka baju Kinanti, mengajaknya ke kamar mandi, menyeka bagian tubuh yang lengket dengan waslap.

"Bajunya Kinan yang pilih ya, Bu."

Ibu mengangguk, "Iya boleh."

Kinanti menuju almari, mengambil baju bergambar Little Pony kesukaannya. Selesai berpakaian ia pamit pada ibu untuk bermain lagi. Lalu berlari menuju taman.

Ibu bersiap-siap menjemput Nabasa dan Alecia. Memakai jaket, helm, masker. Berangkat  mengendarai motornya.

Setengah jam kemudian, ibu sudah kembali ke rumah bersama Nabasa dan Alecia.

Kinanti dari arah taman bermain yang letaknya hanya dua puluh meter dari rumah, melihat kedatangan ibu serta kakaknya. Ia segera berlari menyambut kedatangan mereka.

Kinanti girang sekali, "Yeee... Teteh sama Cia sudah pulang...!" Bersorak dengan napas terengah.

Nabasa dan Alecia membuka sepatu dan kaos kaki, menoleh ke arah Kinanti sambil tersenyum. Lalu mereka masuk rumah, menuju kamar hendak berganti pakaian.

Kinanti mengikuti kakaknya dari belakang.
Kinanti mendekati Alecia dan Nabasa, "Teteh, Teteh, tadi enak banget lho... Kinan makan es mambo." Dengan wajah ceria. Ia tidak tahan ingin menceritakan nikmatnya makan es mambo.

Ibu memperhatikan tingkah Kinanti, tertawa kecil, lalu berjalan menuju belakang rumah.



Nabasa berhenti sejenak, menoleh ke arah Kinanti.
"Es mambo apaan?"

"Itu lhoo... yang kita bikin semalam." Jawab Kinanti sambil senyum-senyum.

Nabasa melotot, "Kinan...! Kan Teteh sudah bilang, makannya bareng-bareng, setelah semua pulang sekolah." Dengan nada sedikit kencang.

Alecia  menoleh ke arah Kinanti, turut menyaut, "Kinan tidak tepati janji!"

Seketika wajah Kinanti mengkerut. "Tapi Kinan pengen...."

Alecia cemberut, "Kinan tidak bisa dipercaya! Jangan diajakin lagi!"

Kinanti semakin merengut, matanya mulai berkaca-kaca, tak lama air matanya berjatuhan, terisak.


"Ya sudah, nanti kalau Teteh sama Cia makan es, Kinan jangan ya! Yang berikutnya baru boleh, kita bareng-bareng."

 "Iyaa...." Dengan suara pelan.

Selesai berganti pakaian, Nabasa dan Alecia makan es sambil menonton TV, sedangkan Kinanti duduk diam memperhatikan kedua kakaknya makan es mambo.

***

Itulah anak-anak, tidak bisa berbohong atas apa yang dilakukan, hingga yang dirahasiakan pun malah diungkapkannya.
Atau anak-anak belum tahu, apa yang disebut rahasia dalam kehidupan.
Barangkali rahasia itu hanya milik orang dewasa.
Julianti, Ciputat 02082016
***

Sabtu, 15 Oktober 2016

CELOTEH ANAK - Kewajiban

CELOTEH ANAK
Kewajiban

Baru sebulan Alecia masuk SD, ia sangat senang punya banyak teman, tapi sayang pagi hari ini tidak bisa masuk sekolah karena sakit, harus beristirahat di rumah.
Ia mulai merasa bosan sendirian, sebab ibu sibuk beres-beres rumah.
Ayah sibuk dengan laptopnya.
Alecia berbaring di kursi sambil menonton TV. Saat ada acara kesukaan ibu, ia memanggil,
Alecia       : "Ibu... ini ada film kesukaan Ibu!"

Ibu            : "Iya... biarin aja, Ibu belum beres." Jawab ibu dari belakang rumah.

Alecia       : "Masih lama tidak, nanti keburu udahan, lho!"

Ibu             : "Sebentar lagi."

Alecia       : "Cepetan, Cia mau ditemani Ibu."

Ibu            : "Iya-iya, sebentar lagi, nih!"

Alecia menunggu ibu dengan tidak sabar.
Sepuluh menit kemudian ibu datang.

Alecia           : "Sini, Bu. Seru, nih!"

Ibu duduk di samping Alecia.
Mereka menonton TV dengan asyik.
Tidak lama ayah memanggil ibu, minta dibuatkan kopi.
Ibu segera ke dapur membuat kopi untuk ayah dan meletakkannya di meja kerja ayah.

Ayah           : "Terimakasih, Bu...." Sambut ayah.

Ibu                : "Iya...."

Alecia         : "Uhuk, uhuk, uhuk, uhuk...." Berkali-kali batuk.

Ibu               : "Cia, minum lagi obatnya."

Alecia         : "Sudah habis, Bu."

Ibu               : "Ooo... tar Ibu buatkan lagi." Ibu menuju dapur mengambil rempah-rempah yang biasa digunakan untuk membuat obat batuk, yaitu cengkeh, kayu manis, jahe merah, kapol, dan pala, masing-masing satu sendok takar, ditumbuk hingga halus, lalu diseduh air panas, disaring, dikasih sedikit madu lalu dikocok.

Ibu               : "Ini diminum dulu mumpung hangat!" Duduk di samping Alecia sambil mendekatkan cangkir dan sendok ke mulutnya, menyuapi tiga sendok makan.
Ibu               : "Nanti kalau batuk lagi minum satu sedok, ya!"

Alecia         : "Iya."

Ibu melihat ke arah jam dinding, jarum jam menunjukkan pukul sebelas, ibu segera bersiap-siap hendak menjemput Kinanti pulang sekolah.
Ibu              : "Ibu jemput Kinan dulu, yaa...!" Berseru pada Ayah dan Alecia.

Ayah           : "Beliin rokok sekalian, Bu!" Pinta ayah.

Ibu              : "Iya...." Ibu segera ke luar dan mengendarai motornya, menuju TK tempat Kinanti bersekolah.

Lima belas menit kemudian ibu sudah tiba di rumah lagi.
Alecia senang Kinanti sudah pulang, jadi ada yang menemani menonton TV.
Ibu memberikan rokok pada ayah, lalu kembali ke ruang TV, membantu Kinanti melepas seragam sekolahnya.
Ayah berseru dari ruang kerjanya.

Ayah              : "Bu... tolong siapin makan dong, ayah sudah lapar."

Ibu                 : "Iya."

Alecia            : "Bu, Ibu sama Ayah usianya lebih tua siapa?" Menatap ibu.

Ibu                  : "Lebih tua Ibu, tapi hanya satu minggu, emang kenapa?" Menoleh ke Alecia.

Alecia            : "Kenapa Ayah suka nyuruh-nyuruh Ibu? berarti Ayah tidak sopan dong, nyuruh-nyuruh yang lebih tua."

Ibu tertawa kecil menoleh ke arah Alecia.
Ibu                 : "Ibu kan istri Ayah, jadi seorang istri harus melayani suami, walau pun lebih tua usianya. Itu namanya kewajiban. Kalau sopan santun, tidak hanya untuk orang yang lebih tua saja, tapi berlaku untuk kesemuanya. Jadi Cia harus sopan baik sama Ibu, Ayah, Teteh, atau Kinan, walau pun Kinan adik Cia."


Alecia        : "Ooo... kalau Cia kewajibannya apa?" Alecia mengerutkan mulut, sambil  berpikir.

Ibu             : "Cia kan masih anak-anak, belum punya kewajiban. Anak-anak itu masih belajar, jadi banyak-banyaklah belajar biar pintar." Tersenyum sambil mengusap-usap kepala Alecia.


Alecia       : "Iya, Bu. Tapi Cia lagi sakit, jadi tidak bisa belajar."

Ibu            : "Belajar bukan hanya di sekolah, tapi dimana pun kita belajar. Barusan Cia juga belajar, tentang kewajiban dan sopan santun." tersenyum, lalu berjalan menuju dapur, menyiapkan makan untuk ayah.

Kinanti     : "Iya, Cia. Belajar tuh!" Sambil memindah-mindahkan chanel TV.

Alecia       : "Emang Kinan belajar apa?"

Kinanti     :  "Nonton."

Alecia       : "Apaan tuh! Bu... masa Kinan belajar nonton, hahaha...." Berseru pada ibu.

Ibu             : "Dari TV juga kita bisa belajar. Tonton acara yang baik."

Kinanti      : "Yeee... Kinan maunya belajar nonton aja...!" Bersorak senang.

Alecia        : "Cia juga mau." Sambil membetulkan bantal, mencari posisi nyaman untuk menonton.

Alecia dan Kinanti pun menonton TV bersama.

***

Sadar akan profesi, kewajiban, akan menumbuhkan rasa nyaman dalam menjalani kehidupan. Sedangkan hak akan didapatkan, meski tidak selalu dari yang bersangkutan, sebab Tuhan tidak pernah salah, mengasihi dan menyayangi makhluknya.
Julianti, Ciputat, 21072016

Jumat, 16 September 2016

CELOTEH ANAK - Nilai

CELOTEH ANAK

Nilai

Nabasa saat ini sedang belajar berbisnis, berdagang.  Ia memproduksi mainan 'Slime'  dan menjual pada teman-temannya di sekitar kompleks rumah, juga di SD tempat ia bersekolah.
Tidak banyak keuntungan yang didapat, namun cukup membanggakan dan juga menyenangkan baginya, sebab bisa bermain sekaligus menghasilkan, punya uang jajan hasil usaha sendiri dan sebagian ia sisihkan untuk ditabung.
Melihat kakaknya senang bisa berjualan, Alecia yang masih duduk di SD kelas satu, berpikir untuk mengikuti Nabasa yang sekarang kelas enam. Tapi ia mau berjualan yang lain, yaitu alat-alat tulis. Ia minta bantuan Nabasa untuk mengantarnya berbelanja setiap ada pesanan dari teman-temannya.
Suatu hari kakek datang berkunjung ke rumah mereka.
Nabasa, Alecia, Kinanti, sangat senang sebab sudah lama tidak bertemu kakek.
Seperti biasa kakek suka memberi uang untuk jajan cucu-cucunya.
Wah... tentu saja Nabasa, Alecia, dan Kinanti tambah senang. Mereka mempunyai rencana masing-masing atas uang yang diperolehnya.

Nabasa       : "Asyiiik... Teteh punya tambahan modal untuk bikin JUMBO SLIME!" Ungkap Nabasa pada adik-adiknya.

Alecia         : "Iya... Cia juga mau tambahin macam-macam jualannya, ah!" Sahut Alecia semangat.

Kinanti hanya menatap acuh tak acuh terhadap tingkah kakak-kakaknya.

Alecia         : "Kinan, uangnya buat apa? mau jualan apa? biar nanti tambah banyak!" Menyemangati Kinanti.

Kinanti mengerutkan mulutnya sambil menggelengkan kepala.

Samar-samar dari jauh terdengar suara musik yang sudah tidak asing lagi ditelinga anak-anak. "Te... no... net..., te... no... net..., te ne ne ne ne, not."

Kinanti segera pergi ke luar, memanggil ibu yang sedang menyiangi tanaman bunganya di halaman rumah.

Kinanti     : "Bu... tolong beliin!" Berdiri di pinggir jalan depan rumah.

Suara itu semakin mendekat, rupanya abang tukang es krim datang.
Ibu menghampiri kinanti, yang sudah siap dengan uang lima puluh ribu di tangannya

Kinanti    : "Bang... beli!"

Abang tukang es krim menghampiri Kinanti. Berhenti dan membuka box tempat es krimnya.
Kinanti digendong ibu, melihat-lihat ke dalam box dan mengambil es krim yang ia suka.
Ibu memperhatikan.
Kinanti memberikan uangnya ke tukang es krim.
Tukang es krim memberikan kembalian uang ke ibu.
Ibu menghitung uang kembalian, lalu memberikannya ke Kinanti.
Ibu           : "Kinan, ini simpan uangnya di dompet Kinan!"

Kinanti menerima uang dari ibu dengan semringah. Turun dari pangkuan lalu berjalan sambil loncat-loncat menghampiri kakak-kakaknya.
Kinanti     : "Teteh... Cia... lihat, uang Kinan jadi banyak...!" Memperlihatkan uang yang ada di genggamannya yang terdiri dari sepuluh ribuan empat lembar, dan lima ribuan satu lembar.

Alecia       : "Yaaa... itu sih malah berkurang!" Sambil tertawa kecil.

Nabasa     : "Masih banyakan uang kita dong...."

Kinanti     : "Apaan, cuma satu! Kinan ada lima lembar."

Nabasa     : "Iya... tapi nilai uang Kinan jadi berkurang."

Kinanti terdiam sambil berpikir, lalu segera masuk ke kamar mengambil dompet dan memasukkan uangnya.
Nabasa menghampiri.
Nabasa     : "Kinan, ngerti tidak, mengapa nilai uang Kinan jadi berkurang?"

Kinanti       : "Ngerti." Jawabnya santai, dan seperti enggan mendengar penjelasan dari kakaknya. Ia hanya terdiam entah apa yang dipikirkan anak usia empat tahun itu.
***

Sikap Kinanti seolah mengingatkan kita, pada sesuatu yang sering kita anggap akan menambah nilai pada diri kita, padahal tidak, bahkan dapat menguranginya.
Misalkan dalam menjalankan ibadah sehari-hari, kita merasa menambah pahala atau nilai untuk kehidupan kita, akan tetapi karena ketidaktahuan,  disertai sikap, ria, sombong, dan takabur, maka bukan hanya sia-sia, bahkan dapat mengurangi nilai atas apa yang telah kita lakukan.
Julianti, 9 September 2016

Jumat, 02 September 2016

CELOTEH ANAK - Motivator Hebat

CELOTEH ANAK
Motivator  Hebat

Tidak ada waktu lagi untuk bersantai, lima belas menit menjelang masuk sekolah pagi.
Perjalanan dari rumah ke sekolah sekitar sepuluh menit.
Nabasa dan Alecia bergegas mempersiapkan diri.
Ibu menunggu di atas motor dengan kostum lengkap: jeket, sepatu, celana panjang, helm, masker.
Setelah siap, anak-anak naik ke atas motor, Nabasa duduk di belakang ibu, Alecia duduk di depan ibu, masing-masing dengan helm-nya.
Motor dinyalakan, melaju cepat.
Di tengah perjalanan, terlihat antrian kendaraan begitu panjang.
Ibu berkata pada anak-anak,
Ibu             : "Waduh..., macet banget, sepertinya kita bakal terlambat, nih!"

Nabasa      : "Lewat jalan motong, Bu!"

Ibu              : "Ke mana, emang tahu jalannya?"

Nabasa      : "Tahu, belok kiri lewat jalan perkampungan, Teteh pernah lewat situ waktu mau kerja kelompok ke rumah teman."

Ibu             : "Ooo. Ayo kalau begitu!" Ibu membelokkan motor yang dikendarainya ke arah kiri.

Motor yang lain banyak juga yang lewat jalan itu.
Sampai di belokan, motor yang dikendarai ibu melaju pelan. Ibu melihat ke depan, tampak jalanan kecil menanjak sedikit curam, kanan kiri diapit parit, permukaan jalan tidak terlalu rata dan sepertinya licin. Ibu khawatir jika terus melaju akan terjatuh, kasihan anak-anak, lalu berpikir untuk meminta anak-anak turun sebentar, berjalan kaki hingga lewat tanjakan, motor akan ibu dorong.
Rupanya Nabasa dapat membaca kekhawatiran ibu, ia pun berkata,
Nabasa      : "Ayo, Bu! Kenapa berhenti?"

Ibu             : "Wah, jalanannya curam, licin lagi, Ibu tidak bisa, Nabasa!"

Nabasa      : "Ayo, Bu! Ibu bisa!" Memberi semangat.

Ibu             : "Nanti jatuh. Kalian turun aja dulu."

Nabasa      : "Tidak, Bu! Ibu past bisa! Gas! Gas!" Nabasa terus memberi semangat dan rasa percaya diri pada ibu.

Alecia yang duduk di depan hanya menatap jalanan tanpa kata-kata.
Ibu melihat ke belakang, tampak antrian motor yang lain menunggunya untuk segera melaju.

Nabasa      : "Ayo, Bu...! Gas! Gas!" Memperkuat suaranya.

Ibu pun menarik gas tanpa banyak pikir lagi, "Brrreeem...!" Suara motor menaiki tanjakan, ibu berkonsentrasi menjaga keseimbangan.
Akhirnya terlewati sudah satu tantangan.

Nabasa      : "Tuh kan, Ibu bisa!"

Ibu             : "Iya." Tersenyum walau jantungnya masih berdebar kencang.

Nabasa     : "Belok kiri, Bu!" Nabasa mengarahkan.

Ibu             : "Wah, berlumpur, becek, hati-hati baju kalian kecipratan kotor!"

Nabasa      : "Tidak apa-apa, lanjut terus, Bu!"

Ibu membawa motor dengan hati-hati, hingga sampailah di depan sekolah dengan selamat dan tepat waktu.

Ibu              : "Alhamdulillah...." Ibu menghentikan motornya dengan perasaan lega.

Nabasa dan Alecia turun dari motor, lalu mencium tangan ibu, pamit hendak masuk ke sekolah. Mereka berjalan menuju pintu gerbang sambil berbincang seru.
Ibu kembali mengendarai motornya melewati jalan yang biasa menuju rumah.
***

Banyak hal yang dilakukan seorang ibu atas dasar kasih sayang terhadap anaknya. Menghadapi tantangan, menerjang rintangan yang menghadang. Hingga pada titik pencapaian.
Anak-anak merupakan motivator yang hebat bagi seorang ibu.
Julianti, Ciputat 01092016

Kamis, 01 September 2016

POROS



POROS

"Kau adalah bola dunia
Yang akan terus berputar pada porosnya
Dan bergerak pada garis edarnya
Tidak akan keluar daripadanya
Jika itu terjadi, maka kiamatlah"
Julianti, Ciputat, 30082016 0200