Sabtu, 18 Maret 2017

CELOTEH ANAK - Salah Paham

CELOTEH ANAK

Salah Paham

Hujan baru saja berhenti, matahari masih diselimuti awan, redup, angin berhembus cukup kencang.
Ibu berpikir, "Lumayan ada angin, bisa sedikit mengeringkan pakaian."
Ibu meminta Kinanti untuk membantu menjemur kembali pakaian yang masih basah. "Kinan... bantuin Ibu jemurin pakaian, ya."
"Iya,Bu." Tampak senang, menjemur pakaian baginya seperti sebuah mainan, ia memilih tempat jemuran yang pendek terlebih dulu agar mudah terjangkau. Kinanti ingin berbagi kesenangan dengan Alecia, ia pun memanggilnya. "Teh Cia... sini bantuin Kinan,"
Alecia yang sedang menonton TV segera menjawab, "Iyaa... bentar...."
"Ayoo... cepetan sini bantuin."
"Iya, iya." Alecia menghampiri Kinanti yang sedang asyik di bagian atas batang jemuran, menggunakan kursi plastik agar dapat menjangkaunya.
Alecia langsung mengambil satu persatu pakaian dari batang jemuran bawah, meletakkannya ke dalam ember.
Kinanti turun dari kursi, melihat ke arah ember, "kok jemurannya ga abis-abis deh kayanya."
"Ini tinggal sedikit lagi, kok." Alecia sambil terus mengambil pakaian dari batang jemuran menaruhnya di ember.
" Yaaa.... Cia.... bukan diangkatin, tapi dijemurin!"
"Yeee... kirain diangkatin."
" Ah, Kinan cape jadinya!" Cemberut lalu duduk di lantai sambil memeluk lutut.
"Kinan ga bilang jemurin, tadi bilangnya bantuin doang, ya dikira angkatin. hehehe." Alecia tertawa kecil menatap Kinanti yang masih cemberut.
"Udah ah, Kinan males!"
Ibu dari dapur mendengar suara Kinanti yang ngambek, segera menuju belakang menghapiri Alecia dan Kinanti. "Kenapa, kok Kinan ngambek?"
Alecia segera menceritakan kejadian tadi ke ibu.
Ibu tertawa lucu, "Hehehe...."
Mendengar ibu tertawa Kinanti semakin manyun.
Ibu segera mendekati dan menggendong Kinanti menuju ke dalam rumah, duduk di sofa.
Alecia mengikuti.
"Kinan cape yaa...? terimakasih ya udah bantu Ibu." Ibu memeluk Kinanti.
"Itu... Cia nya...." Kinanti menggerutu.
"Iyaa... tadi Cia tidak mengerti maksud Kinan, sebab Kinan bilanginnya kurang jelas, jadi salah deh." Ibu senyum, sambil tetap memeluk Kinanti.
"Cia juga... lain kali kalau ada yang tidak dimengerti atau ragu, sebaiknya tanya dulu, agar tidak salah paham." Lanjut ibu sambil mendekatkan tubuh Alecia dengan Kinanti, memeluknya bersamaan.
"Iya...." Jawab Alecia pelan.
"Sekarang, kalau mau nonton TV, nonton aja. Biar nanti Ibu yang lanjutin jemurnya."
Ibu melepaskan pelukannya, bangkit, dan berjalan menuju belakang rumah melanjutkan menjemur pakaian.
Alecia dan Kinanti menonton TV film kartun kesukaannya.
***
Salah paham sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari, tetapi jika kita masih punya itikad baik untuk saling mengerti, memperbaiki, maka semua dapat terselesaikan dengan damai.
Julianti, Ciputat, 24112016

Minggu, 12 Maret 2017

CELOTEH ANAK - Semangat

CELOTEH ANAK

SEMANGAT

Waktu menunjukkan pukul tujuh malam.
Nabasa, Alecia dan Kinanti sedang mengerjakan PR dari sekolahnya.
Ibu menemani mereka sambil membaca buku.
Lima belas menit berlalu, ibu menoleh ke arah Kinanti, terlihat beberapa kali menguap.

"Kinan ngantuk?"

"Tidak!" Sambil merubah posisi duduknya lebih tegak.

"Kalau sudah ngantuk, tidur saja, besok pagi dilanjut lagi. Kan Kinan berangkat sekolahnya jam setengah delapan, jadi masih keburu ngerjain sisa PRnya."

"Tanggung, Bu!"

"Oh... ya sudah kalau masih mau ngerjain." Ibu melanjutkan baca buku.

Tidak lama Kinanti kembali menguap, kepala bersandar ke meja, berbantal tangannya.

"Kinan...." Ibu memanggil dengan lembut.

"Yaaa...." Menjawab perlahan.

"Yuk, bobo!"

"Nanti aja. Semangat... semangat... semangat." Dengan suara lemas ia menyemangati dirinya.

Ibu, Nabasa, Alecia, tertawa kecil mendengar ucapan 'semangat' dari Kinanti.

"Sudah lemes, masih maksain, mending tidur aja!" Nabasa nyeletuk.

"Iya... jadi lucu dengernya." Alecia menyambung.

"Kinan masih semangat, tahu!" Sambil tidak merubah posisi duduknya, kepala masih menyandar di atas meja.

"Iya... iya... sudah, ayo lanjutin lagi!" Ibu melerai.

Alecia dan Nabasa saling melihat, memonyongkan bibir, mendelik ke arah Kinanti, lalu kembali ke bukunya masing-masing.

Sepuluh menit kemudian, ibu melihat Kinanti sudah terlelap dengan posisi yang sama seperti tadi. Kepala di atas meja berbantal tangan kanan yang masih memegang pensil, "Pluk!" Pensil dari tangan Kinanti terjatuh.
Ibu segera mengangkat tubuh Kinanti, memindahkannya ke atas kasur.

"Tuh kan, dia sebenarnya sudah ngantuk, tapi maksain!" Nabasa komentar.

"Iya...." Alecia menyaut.

"Kinanti ingin seperti kakak-kakaknya, rajin belajar biar cepat pintar." Ibu menoleh ke arah Nabasa dan Alecia sambil tersenyum.

"Hhhmmm.,,." Nabasa nyinyir, lalu kembali melanjutkan PRnya.

Setelah selesai mengerjakan PR, Alecia dan Nabasa pun menuju tempat tidur, beristirahat, agar besok dapat beraktifitas kembali.
Melihat anak-anaknya sudah nyaman di peraduan, ibu menuju kamarnya, menonton film di TV, hingga tertidur juga.
***

Kata SEMANGAT jika diucapkan oleh orang dalam kondisi sungguh-sungguh bersemangat, itu akan memotivasi semua yang ada di sekitarnya.
Tapi jika tidak, maka hanya akan jadi lelucon saja.
Julianti, Ciputat, 22082016

Minggu, 05 Maret 2017

CELOTEH ANAK - Masuk Sorga

CELOTEH ANAK

Masuk Sorga

Suasana di kompleks rumah terlihat ramai, banyak warga menuju rumah Pak Soleh.
Tidak lama, terdengar suara pengumuman dari speaker masjid. "Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh... innalillahi wainailaihi rojiun... telah berpulang ke Rahmatullah Bapak Soleh bin Amin, yang beralamat di jalan Manggis...."

Serentak Alecia, Kinanti berlari menghampiri ibu.
"Bu... ada yang meninggal!" Keduanya dengan mimik muka serius.

"Iyaa..., tadi juga ayah sudah ke sana." Jawab ibu.

"Ayah ke sana untuk mendoakan, ya?" Tanya Alecia.

"Iya, mendoakan dan membantu mempersiapkan penguburan."

"Waaah... yang melayat banyak. Pasti masuk sorga!" Alecia sambil melihat ke luar rumah lewat jendela.

"Kenapa begitu?" Kinanti menatap heran pada Alecia.

"Karena banyak yang mendo'akan. Bu, kita harus banyak berdoa, ya, biar masuk sorga?" Alecia menatap ibu.

Belum sempat ibu menjawab, Kinanti menyeletuk, "Berdoa itu kan diam, gimana mau masuk surga kalau diam aja?"

Ibu tersenyum melihat ke Kinanti dan Alecia,

"Kalau kita berdoa dengan sungguh-sungguh, maka kita akan merasakan ketenangan, kedamaian. Nah, itulah sorga. Di mana kita dapat merasakan damai. Tapi bukan berarti kita hanya berdoa saja tanpa melakukan apa-apa. Kenapa coba...?" ibu memandang kedua anaknya secara bergantian.

Tampak Alecia dan Kinanti senyum-senyum, "Tidak tahu...." Mereka menjawab serempak.

"Karena kita hidup. Masa orang hidup diam saja!" Ibu tertawa kecil.

"Terus, ngapain, dong?" Alecia bertanya dengan ekspresi polosnya anak-anak.

"Ya bergerak, melakukan sesuatu sesuai perannya. Misal Cia, dan Kinan, belajar, bermain, dan berperilaku baik. Maka kita semua akan senang, damai. Itulah apa?"

"Sorga...!" Kembali keduanya menjawab serentak.

"Kalau yang sudah meninggal sorganya gimana?" Alecia menatap ibu penuh rasa penasaran.

"Orang yang sudah meninggal itu berarti sudah kembali pada Allah. Kita tidak tahu bagaimana bentuk sorga atau nerakanya. Kita hanya bisa menilai orang pada saat masih hidup. Jika berbuat baik, maka akan dapat kebaikan, jika berbuat buruk, akan mendapat keburukan. Itulah sorga dan neraka."

Alecia dan Kinanti terdiam, tampaknya penjelasan ibu dapat diterima oleh pikiran kanak-kanak mereka yang masih sederhana.
Melihat anak-anaknya sudah mengerti, ibu segera bersiap-siap pergi melayat.
Tidak mau ketinggalan Alecia dan Kinanti turut serta.
Mereka bersama-sama pergi ke rumah keluarga Pak Soleh.
***

Anak-anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, namun berpikir secara sederhana. Dengan kesederhanaannyalah maka mereka akan selalu bersikap ceria, tanpa beban, dan damai. Itulah sorga, di mana rasa damai senantiasa bersama kita.
Julianti, Ciputat, 21082016


Kamis, 29 Desember 2016

CELOTEH ANAK - Mandiri

CELOTEH ANAK

Mandiri

Pukul sebelas lewat empat puluh lima menit, terdengar suara mengucap salam dari pintu depan, "Assalamualaikum...." Rupanya Nabasa baru pulang sekolah.

Ibu menjawab salam dan menghampiri Nabasa. "Waalaikum salam..., kok sudah pulang, sama siapa?"

"Tadi pulangnya agak cepat, nunggu dijemput Ibu kelamaan, jadi coba pulang sendiri naik angkot."

"Berani?"

"Di angkotnya sih sama Sena. Pas jalan ke kompleksnya, sendiri."

"Ooo...." Ibu kembali berjalan ke belakang rumah.

Nabasa membuka sepatu dan kaus kaki, lalu menghampiri ibu. "Bu, Teteh senang banget punya buku LKS." Mengambil beberapa buku dari dalam tasnya, menunjukkan pada ibu.

"Lho, kok sudah dapat, Ibu kan belum kasih uangnya?"

"Sudah dibayar, Bu. Pakai uang Teteh, hasil jualan Slime." Tersenyum sambil menggerak-gerakkan kedua alisnya yang tebal.

"Ooo... nanti Ibu ganti."

"Tidak usah, Bu. Teteh seneng banget bisa beli buku sendiri. Kalau dulu punya buku itu rasanya biasa saja, sekarang beda, gimana... gitu!"

Ibu tersenyum, "karena belinya pake uang sendiri kali... perasaan bangga, senang pada diri sendiri, karena sudah dapat menghasilkan sesuatu atas usaha yang telah dilakukan. Itu namanya kepuasan diri."

"Iya, Betul. Teteh merasa puas dan bangga." Tersenyum lebar.

"Berarti sekarang tambah rajin dong belajarnya." Mata ibu menatap menggoda Nabasa sambil tersenyum.

"Hehehe... sepertinya sih, begitu." Nabasa membereskan buku-buku memasukkannya kembali ke dalam tas. "Bu, Teteh merasa, semakin besar itu semakin serba sendiri. Nyuci sendiri, nyetrika sendiri, apa-apa sendiri."

"Iya memang begitu, bayi saja tidak selamanya nyusu terus sama ibunya. Apa lagi Teteh sudah kelas enam SD."

"Yeee... emangnya Teteh masih nyusu ke Ibu!"

"Itu kan, istilahnya, bukan arti yang sebenarnya."

"Hahaha...." Keduanya tertawa geli.

"Bu, Teteh mau kasih nama dulu bukunya." Berjalan menuju kamar. Satu persatu buku itu dia tulisi namanya.

Ibu tersenyum senang melihat anak sulungnya sudah bisa mandiri.
***

Banyak hal yang dapat membuat rasa bangga, percaya diri, dan dihargai. Diantaranya adalah dapat hidup MANDIRI.
Julianti, Ciputat, 16092016

Sabtu, 03 Desember 2016

CELOTEH ANAK - Teman

CELOTEH ANAK
Teman

Hari Minggu, adalah hari kemerdekaan bagi anak-anak, sebab bebas dari rutinitas sekolah.
Setelah sholat subuh, Nabasa, Alecia, Kinanti, membereskan tempat tidur, lalu pamitan untuk lari pagi mengelilingi kompleks rumah bersama teman-temannya.

Begitu pun ibu, merasakan suasana santai di hari Minggu, selesai beres-beres rumah, membuka laptop, memutar vidio senam aerobik, walau senam sendiri tapi terlihat menikmati.
Jam delapan lewat ibu selesai senam.
Anak-anak belum pulang ke rumah untuk sarapan.
Ibu mulai khawatir, bergegas ke luar menuju rumah Mia sahabat Nabasa, ternyata tidak ada. Mencari ke rumah temannya yang lain, tidak ketemu juga, bahkan teman-temannya pun belum pulang.

"Hhmmm... ke mana anak-anak, ya." Ibu bergumam sambil berjalan melewati mesjid.
Sayup  terdengar suara ramai di halaman mesjid, ternyata anak-anak sedang bermain loncat tinggi.
Ibu menghampiri, "Teteh , Cia, Kinan... ayo pulang dulu, kan belum makan."

"Tar, Bu!" Jawab Nabasa.

"Ini sudah mau jam sembilan, nanti mainnya dilanjutin setelah makan!"

"Iya, iya, Bu...." Berhenti sejenak menoleh pada teman-temannya, "Hey... aku mau makan dulu ya... nanti ke sini lagi."

Teman-teman Nabasa terlihat kecewa, tapi mereka terus melanjutkan permainan.
Nabasa menghampiri ibu.
Alecia dan Kinanti mengikuti.
Mereka berjalan bersama menuju rumah.

"Gimana sih, main kok sampai lupa makan!" Ibu mengomel.

"Teman-teman yang lain juga belum pada makan." Nabasa menyahut.

"Kenapa ngikutin orang lain?" Ibu menoleh ke Nabasa.

"Bukan orang lain, Bu. Tapi TEMAN." Kinanti menceletuk, dengan muka tanpa ekspresi.

"Iya..., teman itu kan orang lain."

"Bukan! Kalau orang lain itu... tidak kenal. Ini semua Kinan kenal." Terlihat wajah polos Kinanti, menggemaskan.

"Iya deh, teman." Ibu menarik napas panjang, senyum tertahan.

"Eh, gimana kalau kita ajak mereka makan bareng, biar seru." Usul Nabasa.

"Iya bener!" Alecia mengacungkan telunjuknya, tanda setuju.

"Ya, Bu, ya...?" Nabasa memegang tangan ibu.

Sejenak Ibu menatap Nabasa, melihat ke Alecia, Kinanti, seraya berpikir. "Hhmmm... Iya, boleh."

"Horeeey...!" Nabasa bersorak senang, segera balik badan, berlari menuju teman-temannya. "Heyy... kalian udah pada makan belum?"

"Belum." Menjawab serentak.

"Kita makan bareng-bareng yuuu...!"

Mereka saling menoleh, menatap, sebagai isyarat minta persetujuan. "Ayo!"

"Iya, ayo! Makannya di Gazebo aja, ya!" Usul Mia.

"Kita ambil makanannya dulu, nanti kumpul di sana." Sahut yang lain.

"Ok...." Anak-anak berlarian menuju rumah masing-masing.

Begitu pun Nabasa, berlari menuju rumahnya. Terlihat ibu, Alecia dan Kinanti, baru sampai teras. "Bu... Bu... biar Teteh aja yang ambil makanannya, kita mau makan bareng di Gazebo."

Ibu mengangguk. "Iya."

"Kinan ikut...!"

"Cia juga...!"

Mereka mengemas makanan ke dalam kotak plastik, lalu pergi menuju Gazebo yang terletak di sudut pertigaan jalan dekat rumah.
Tidak lama kemudian teman-temannya berdatangan.
Mereka pun makan dengan lahap dan seru, saling mencicipi makanan yang dibawa dari rumah masing-masing.
***

Sikap anak-anak itu mengingatkan kita tentang solidaritas.
Rasa kebersamaan yang kini mulai memudar, terutama di daerah perkotaan.
Budaya "Silih asah, silih asih, silih asuh."  Semoga dapat terjalin kembali, mengakar, tertanam dari sejak dini.
Julianti, Ciputat, 14082016

Jumat, 25 November 2016

CELOTEH ANAK - Rahasia


CELOTEH ANAK
Rahasia

Hari begitu panas, baju Kinanti basah berkeringat, ia merasa tidak nyaman dan kehausan. Dari taman ia berlari pulang ke rumah.
Sampai di rumah langsung mendekati kulkas, membuka pintunya, terlihat di freezer ada es mambo kacang hijau yang semalam ia buat bersama Nabasa dan Alecia.
Ia ingin memakannya, akan tetapi mereka sudah membuat kesepakatan akan makan es-es itu bersama.
Kinanti tampak bingung, ingin mengambil es itu. Ambil tidak. Ambil tidak. Tidak ambil.
Tangan mungil Kinanti meraih sebungkus es mambo.
Kinanti tengok kiri kanan lalu berlari ke sudut ruang TV. Dengan cepat ia buka es mambo lalu menikmatinya dengan lahap. Sesekali matanya terbeliak menahan rasa dingin di bibir dan lidahnya.

Ibu yang sedang berada di dapur, melihat tingkah Kinanti, lalu menghampirinya. "Kinan... kenapa makan es sambil ngumpet?"

Kinanti melotot dengan bibir manyun, telunjuk tangan kirinya ditempelkan di bibir, "Sssttt... Ibu jangan bilang-bilang Teteh sama Cia, ya! Ini RAHASIA." Makin jenaka wajah Kinanti, seraya mengusap mulutnya yang belepotan es mambo

Ibu tersenyum, "Rahasia apa?"

"Kinan makan es duluan." Dengan nada berbisik.

Ibu  menahan geli, "Ooo... tapi kan Teteh sama Cia belum pulang sekolah, tidak ada di rumah, kenapa harus ngumpet?"

"Iya... tidak apa-apa, Ibu jangan berisik!" Matanya mendelik.

Ibu tersenyum melihat tingkah Kinanti, lalu kembali ke dapur.

Sehabis makan es, Kinanti menghampiri ibu yang baru selesai masak.
"Bu... Kinan mau ganti baju, ini sudah basah, lengket." Menarik-narik baju yang dipakainya.

"Iya, sini sekalian diseka." Ibu membantu membuka baju Kinanti, mengajaknya ke kamar mandi, menyeka bagian tubuh yang lengket dengan waslap.

"Bajunya Kinan yang pilih ya, Bu."

Ibu mengangguk, "Iya boleh."

Kinanti menuju almari, mengambil baju bergambar Little Pony kesukaannya. Selesai berpakaian ia pamit pada ibu untuk bermain lagi. Lalu berlari menuju taman.

Ibu bersiap-siap menjemput Nabasa dan Alecia. Memakai jaket, helm, masker. Berangkat  mengendarai motornya.

Setengah jam kemudian, ibu sudah kembali ke rumah bersama Nabasa dan Alecia.

Kinanti dari arah taman bermain yang letaknya hanya dua puluh meter dari rumah, melihat kedatangan ibu serta kakaknya. Ia segera berlari menyambut kedatangan mereka.

Kinanti girang sekali, "Yeee... Teteh sama Cia sudah pulang...!" Bersorak dengan napas terengah.

Nabasa dan Alecia membuka sepatu dan kaos kaki, menoleh ke arah Kinanti sambil tersenyum. Lalu mereka masuk rumah, menuju kamar hendak berganti pakaian.

Kinanti mengikuti kakaknya dari belakang.
Kinanti mendekati Alecia dan Nabasa, "Teteh, Teteh, tadi enak banget lho... Kinan makan es mambo." Dengan wajah ceria. Ia tidak tahan ingin menceritakan nikmatnya makan es mambo.

Ibu memperhatikan tingkah Kinanti, tertawa kecil, lalu berjalan menuju belakang rumah.



Nabasa berhenti sejenak, menoleh ke arah Kinanti.
"Es mambo apaan?"

"Itu lhoo... yang kita bikin semalam." Jawab Kinanti sambil senyum-senyum.

Nabasa melotot, "Kinan...! Kan Teteh sudah bilang, makannya bareng-bareng, setelah semua pulang sekolah." Dengan nada sedikit kencang.

Alecia  menoleh ke arah Kinanti, turut menyaut, "Kinan tidak tepati janji!"

Seketika wajah Kinanti mengkerut. "Tapi Kinan pengen...."

Alecia cemberut, "Kinan tidak bisa dipercaya! Jangan diajakin lagi!"

Kinanti semakin merengut, matanya mulai berkaca-kaca, tak lama air matanya berjatuhan, terisak.


"Ya sudah, nanti kalau Teteh sama Cia makan es, Kinan jangan ya! Yang berikutnya baru boleh, kita bareng-bareng."

 "Iyaa...." Dengan suara pelan.

Selesai berganti pakaian, Nabasa dan Alecia makan es sambil menonton TV, sedangkan Kinanti duduk diam memperhatikan kedua kakaknya makan es mambo.

***

Itulah anak-anak, tidak bisa berbohong atas apa yang dilakukan, hingga yang dirahasiakan pun malah diungkapkannya.
Atau anak-anak belum tahu, apa yang disebut rahasia dalam kehidupan.
Barangkali rahasia itu hanya milik orang dewasa.
Julianti, Ciputat 02082016
***

Sabtu, 15 Oktober 2016

CELOTEH ANAK - Kewajiban

CELOTEH ANAK
Kewajiban

Baru sebulan Alecia masuk SD, ia sangat senang punya banyak teman, tapi sayang pagi hari ini tidak bisa masuk sekolah karena sakit, harus beristirahat di rumah.
Ia mulai merasa bosan sendirian, sebab ibu sibuk beres-beres rumah.
Ayah sibuk dengan laptopnya.
Alecia berbaring di kursi sambil menonton TV. Saat ada acara kesukaan ibu, ia memanggil,
Alecia       : "Ibu... ini ada film kesukaan Ibu!"

Ibu            : "Iya... biarin aja, Ibu belum beres." Jawab ibu dari belakang rumah.

Alecia       : "Masih lama tidak, nanti keburu udahan, lho!"

Ibu             : "Sebentar lagi."

Alecia       : "Cepetan, Cia mau ditemani Ibu."

Ibu            : "Iya-iya, sebentar lagi, nih!"

Alecia menunggu ibu dengan tidak sabar.
Sepuluh menit kemudian ibu datang.

Alecia           : "Sini, Bu. Seru, nih!"

Ibu duduk di samping Alecia.
Mereka menonton TV dengan asyik.
Tidak lama ayah memanggil ibu, minta dibuatkan kopi.
Ibu segera ke dapur membuat kopi untuk ayah dan meletakkannya di meja kerja ayah.

Ayah           : "Terimakasih, Bu...." Sambut ayah.

Ibu                : "Iya...."

Alecia         : "Uhuk, uhuk, uhuk, uhuk...." Berkali-kali batuk.

Ibu               : "Cia, minum lagi obatnya."

Alecia         : "Sudah habis, Bu."

Ibu               : "Ooo... tar Ibu buatkan lagi." Ibu menuju dapur mengambil rempah-rempah yang biasa digunakan untuk membuat obat batuk, yaitu cengkeh, kayu manis, jahe merah, kapol, dan pala, masing-masing satu sendok takar, ditumbuk hingga halus, lalu diseduh air panas, disaring, dikasih sedikit madu lalu dikocok.

Ibu               : "Ini diminum dulu mumpung hangat!" Duduk di samping Alecia sambil mendekatkan cangkir dan sendok ke mulutnya, menyuapi tiga sendok makan.
Ibu               : "Nanti kalau batuk lagi minum satu sedok, ya!"

Alecia         : "Iya."

Ibu melihat ke arah jam dinding, jarum jam menunjukkan pukul sebelas, ibu segera bersiap-siap hendak menjemput Kinanti pulang sekolah.
Ibu              : "Ibu jemput Kinan dulu, yaa...!" Berseru pada Ayah dan Alecia.

Ayah           : "Beliin rokok sekalian, Bu!" Pinta ayah.

Ibu              : "Iya...." Ibu segera ke luar dan mengendarai motornya, menuju TK tempat Kinanti bersekolah.

Lima belas menit kemudian ibu sudah tiba di rumah lagi.
Alecia senang Kinanti sudah pulang, jadi ada yang menemani menonton TV.
Ibu memberikan rokok pada ayah, lalu kembali ke ruang TV, membantu Kinanti melepas seragam sekolahnya.
Ayah berseru dari ruang kerjanya.

Ayah              : "Bu... tolong siapin makan dong, ayah sudah lapar."

Ibu                 : "Iya."

Alecia            : "Bu, Ibu sama Ayah usianya lebih tua siapa?" Menatap ibu.

Ibu                  : "Lebih tua Ibu, tapi hanya satu minggu, emang kenapa?" Menoleh ke Alecia.

Alecia            : "Kenapa Ayah suka nyuruh-nyuruh Ibu? berarti Ayah tidak sopan dong, nyuruh-nyuruh yang lebih tua."

Ibu tertawa kecil menoleh ke arah Alecia.
Ibu                 : "Ibu kan istri Ayah, jadi seorang istri harus melayani suami, walau pun lebih tua usianya. Itu namanya kewajiban. Kalau sopan santun, tidak hanya untuk orang yang lebih tua saja, tapi berlaku untuk kesemuanya. Jadi Cia harus sopan baik sama Ibu, Ayah, Teteh, atau Kinan, walau pun Kinan adik Cia."


Alecia        : "Ooo... kalau Cia kewajibannya apa?" Alecia mengerutkan mulut, sambil  berpikir.

Ibu             : "Cia kan masih anak-anak, belum punya kewajiban. Anak-anak itu masih belajar, jadi banyak-banyaklah belajar biar pintar." Tersenyum sambil mengusap-usap kepala Alecia.


Alecia       : "Iya, Bu. Tapi Cia lagi sakit, jadi tidak bisa belajar."

Ibu            : "Belajar bukan hanya di sekolah, tapi dimana pun kita belajar. Barusan Cia juga belajar, tentang kewajiban dan sopan santun." tersenyum, lalu berjalan menuju dapur, menyiapkan makan untuk ayah.

Kinanti     : "Iya, Cia. Belajar tuh!" Sambil memindah-mindahkan chanel TV.

Alecia       : "Emang Kinan belajar apa?"

Kinanti     :  "Nonton."

Alecia       : "Apaan tuh! Bu... masa Kinan belajar nonton, hahaha...." Berseru pada ibu.

Ibu             : "Dari TV juga kita bisa belajar. Tonton acara yang baik."

Kinanti      : "Yeee... Kinan maunya belajar nonton aja...!" Bersorak senang.

Alecia        : "Cia juga mau." Sambil membetulkan bantal, mencari posisi nyaman untuk menonton.

Alecia dan Kinanti pun menonton TV bersama.

***

Sadar akan profesi, kewajiban, akan menumbuhkan rasa nyaman dalam menjalani kehidupan. Sedangkan hak akan didapatkan, meski tidak selalu dari yang bersangkutan, sebab Tuhan tidak pernah salah, mengasihi dan menyayangi makhluknya.
Julianti, Ciputat, 21072016